Mengenal Kitab SHAHIH TARIKH ATH-THABARI

 

1. Penulis & Konteks

  • Penulisnya adalah Abū Jaʿfar Muḥammad ibn Jarīr al‑Ṭabarī (sekitar 839–923 M / 224–310 H).
  • Beliau berasal dari Amol, Tabaristan (sekarang wilayah Iran) dan bekerja di Baghdad dalam era Kekhalifahan Abbasiyah.
  • Karyanya ini diselesaikan sekitar tahun 915 M.
  • Konteks penulisan: beliau berada dalam tradisi historiografi Islam awal, di mana pengumpulan riwayat, isnād (rantai periwayatan), dan kronik tahunan menjadi metode utama.

2. Judul, Versi & Sebutan

  • Judul asli Arab: Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk (تاريخ الرّسول و الملوك) — “Sejarah Para Nabi dan Raja” atau “Sejarah Utusan dan Raja”.
  • Dalam tradisi Melayu/Indonesia terdapat edisi yang diberi label “Shahih Tarikh Ath-Tabari”. Misalnya dalam penerbitan “Shahih Tarikh Ath-Tabari jilid 1” yang menyebut bahwa “Kitab Tarikh al-Umam wa al-Muluk inilah antara yang menjadikan nama Imam Ath-Tabari…”
  • Penting dicatat: penamaan “Shahih” dalam versi lokal bukan berasal dari al-Tabari sendiri sebagai penilaian keilmuan secara kritis, melainkan label penerbit (terjemahan/edisi) yang mengarah kepada ‘kitab sejarah’ beliau.

3. Isi & Struktur Umum

  • Kitab ini bermula dengan penciptaan dunia (‘al-Khalq’), para nabi, kerajaan-kerajaan kuno, terus hingga sejarah Islam hingga tahun 915 M.
  • Struktur penulisan bersifat annalistik (ural per tahun) bukan hanya biografi kronologis.
  • Materinya meliputi: sejarah pra-Islam (Arab dan non-Arab), kehidupan dan karya Rasulullah, kekhalifahan pertama, Umayyah, Abbasiyah, berbagai peristiwa politik dan sosial.
  • Metoda: al-Tabari sering mencantumkan berbagai versi riwayat mengenai satu peristiwa, berserta rantai periwayatan (isnād) untuk setiap riwayat.

4. Tujuan & Filosofi Penulisan

  • Al-Tabari menulis kitab ini dengan visi bahwa sejarah umat manusia (termasuk umat Islam) bukan sekadar kronik duniawi, tetapi juga dimaknai dalam kerangka teologis: pengakuan terhadap keadilan, takdir, serta tradisi ilahiah yang terus berlangsung.
  • Dengan demikian, kitab ini tidak hanya bertujuan mengumpulkan peristiwa‐peristiwa, melainkan juga menunjukkan “iprah” (peran) Tuhan dalam sejarah manusia—sesuai paradigma sejarah Islam klasik.

5. Keistimewaan & Pengaruh

  • Kitab ini merupakan salah satu sumber utama untuk sejarah awal Islam dan kerajaan-kerajaan di wilayah timur-tengah.
  • Metode “menampilkan berbagai riwayat” menjadikannya bahan kajian penting bagi sejarawan modern yang ingin lihat “versi yang beragam” dari satu peristiwa.
  • Telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dijadikan rujukan akademis.

6. Catatan Kritikal & Keterbatasan

  • Walaupun sangat berharga, para kritikus menegaskan bahwa al-Tabari tidak selalu menyaring secara ketat keandalan setiap riwayat—bahkan beliau sendiri menyatakan bahwa riwayat yang dihadirkannya bersifat khabar (laporan) dengan berbagai tingkat kredibilitas. (Reddit+1)
  • Sebagai contoh: seorang penulis modern menulis bahwa “pakar … percaya karya al-Tabari adalah kumpulan riwayat terkait peristiwa-tertentu, tanpa mempertimbangkan secara menyeluruh semuanya dapat dipercaya.” (newageislam.com)
  • Oleh karena itu, bagi penelitian historiografi atau untuk kerangka asesmen, penting untuk memperlakukan kitab ini sebagai sumber primer dengan kesadaran akan konteks metodologinya dan bukan sebagai narasi historiografi modern yang sepenuhnya ‘kritik dialektis’.

Terjemahan Shahih Tarikh Ath-Thabari :